Sejenak Santai

Sejenak santai setelah jalankan kewajiban,lalu di abadikan oleh Agha.

Serah Terima Jabatan

Regenerasi sangat diperlukan dalam rangka untuk memperbaharui semangat dalam bekerja dan memperbaiki keadaan.

Seorang Pendamping Hidup

Seorang pendamping hidup yang selalu setia mendampingi suaminya demi menunjang aktifitas dan kegiatan suaminya.

Bersantai Sejenak

Melepaskan kegalauan hati sejenak dari kegiatan rutin dalam rangka untuk kembali merefresh hati (jiwa) dan raga sehingga dapat melaksanakan tugas kembali dengan baik.

Kenangan-Kenangan

Berpoto sejenak sebagai bukti diri di Kantor Kementerian Agama Republik Indonesia.

Pengabdian

Sedang menjalankan pengabdian pada Masyarakat di sebuah desa Kuliah Kerja Nyata.

Tampilkan postingan dengan label Tausiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Juni 2012

AKHLAK SUAMI ISTRI DALAM ISLAM

AKHLAK SUAMI ISTRI DALAM ISLAM Oleh: Ali Akbar bin Agil PROF. Dr. Sayyid Muhammad Al-Maliki, ulama besar dari kota Makkah, dalam bukunya Adabul Islam Fi Nidzaamil Usrah, mengetengahkan adab, etika, dan akhlak pasangan suami-istri dalam berkeluarga. Dalam bukunya dijelaskan tentang pentingnya akhlak pergaulan baik dari pihak suami maupun istri. Keduanya sama-sama memiliki kewajiban dan keharusan untuk menjadikan akhlak rumah tangga nabi sebagai pedoman paripurna. BAGI SANG SUAMI Hal pertama yang wajib diketahui dalam mempergauli istri adalah mengedepankan sikap welas asih, cinta, dan kelembutan. Dalam Al-Qur`an, Allah berfirman; وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَيَجْعَلَ اللّهُ فِيهِ خَيْراً كَثِيراً “Dan bergaullah dengan mereka (para istri) secara patut, kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Qs. An-Nisa` : 19) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, seperti diriwayatkan oleh Ibnu Majah,“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik perlakuannya kepada keluargaku.” Kedua, Sebagai seorang kepala keluarga, suami dianjurkan untuk memperlakukan istri dan anak-anaknya dengan kasih sayang dan menjauhkan diri dari sikap kasar. Adakalanya seorang suami menjadi tokoh terpandang di tengah masyarakat, ia mampu dan pandai sekali berlemah lembut dalam tutur kata, sopan dalam perbuatan tapi gagal memperlakukan keluarganya sendiri dengan sikapnya saat berbicara kepada masyarkat. Ketiga, seorang suami sangat membutuhkan pasokan kesabaran agar ia tangguh dalam menghadapi keadaan yang tidak mengenakkan. Suami tangguh adalah suami yang tidak mudah terpancing untuk lekas naik pitam saat melihat hal-hal yang kurang tepat demi cinta dan rasa sayangnya kepada istri. Betapa sabarnya Rasulullah sebagai seorang suami dalam mengurusi para istrinya. Begitu sabarnya, sampai-sampai sebagai sahabat beliau mengatakan, “Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih pengasih kepada keluarganya melebihi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam.” (HR. Muslim). Contoh seorang suami yang penyayang lainnya dapat kita simak dari kisah Sayidina Umar bin Khaththab Ra. Beliau yang terkenal ketegasan dan sikap kerasnya dalam mengahadapi kemungkaran, pernah berkata saat didatangi oleh orang Badui yang akan mengadukan sikap cerewet istrinya. Di saat bersamaan, Umar pun baru saja mendapat omelan dari istri dengan suara yang cukup keras. Umar memberi nasihat kepada si Badui, “Wahai saudaraku semuslim, aku berusaha menahan diri dari sikap (istriku) itu, karena dia memiliki hak-hak atas istriku. Aku berusaha untuk menahan diri meski sebenarnya aku bisa saya menyakitinya (bersikap keras) dan memarahinya. Akan tetapi, aku sadar bahwa tidak ada orang yang memuliakan mereka (kaum wanita), selain orang yang mulia dan tidak ada yang merendahkan mereka selain orang yang suka menyakiti. Aku sangat ingin menjadi orang yang mulia meski aku kalah (dari istriku), dan aku tidak ingin menjadi orang yang suka menyakiti meski aku termasuk orang yang menang.” Umar meneruskan nasihatnya, “Wahai Saudaraku orang Arab, aku berusaha menahan diri, karena dia (istriku) memiliki hak-hak atas diriku. Dialah yang memasak makanan untukku, membuatkan roti untukku, menyusui anak-anakku, dan mencuci baju-bajuku. Sebesar apapun kesabaranku terhadap sikapnya, maka sebanyak itulah pahala yang aku terima.” Keempat, seorang suami hendaknya mampu mencandainya. Adanya canda dan tawa dalam kehidupan berumah tangga lazim selalu dilakukan. Bayangkan apa yang terjadi jika pasangan suami-istri melalui hari-harinya tanpa canda. Lambat laun rumah tangganya menjadi bak areal pemakaman yang sepi, senyap, hampa. Suami yang ingin menunaikan hak-hak istrinya akan berusaha mengundang canda, gurauan, yang mencairkan suasana dengan senyum dan tawa; berusaha untuk bermain perlombaan dengan istri seperti yang dilakukan Rasulullah kepada istrinya Aisyah Ra. Dalam diri setiap manusia terdapat sifat kekanak-kanakan, khususunya pada diri seorang wanita. Istri membutuhkan sikap manja dari suaminya dan karenanya jangan ada yang menghalangi sikap manja seorang suami untuk istrinya. Maurice J. Elias Ph. D dkk dalam bukunya Emotionally Intelligent Parenting: How to Rise a Self-Disciplined, Responsible, Socially Skilled Child, menyinggung fungsi humor dalam proses kimiawi dan psikologis tubuh kita. “Humor kecil sehari-hari seperti vitamin ampuh untuk membangun dan mempertahankan kemampuan Anda secara positif menanggapi tugas-tugas keayahbundaan dan tantangan hidup lainnya.” Menyisipkan humor dalam hubungan dengan pasangan dan anak-anak, menurut Maurice, dimaksudkan untuk menjaga agar kita tetap dalam kerangka berpikir optimis. “Cobalah melakukan hal-hal yang bisa membawa Anda ke dalam suasana humor setiap hari, meskipun hanya sebentar. Kalau tidak bisa setiap hari, coba sesering yang bisa Anda lakukan,” pesannya dalam buku yang telah dialih bahasakan berjudul Cara-cara Efektif Mengasuh Anak dengan EQ. AKHLAK SANG ISTRI Adapun kewajiban bagi pihak istri adalah tidak akan membebani suaminya dengan hal-hal yang tidak sanggup ia kerjakan dan tidak menuntut sesuatu yang lebih dari kebutuhan. Sikap ini dapat menjadi bantuan untuk suami dalam urusan finansial. Akhlak pertama bagi pihak istri.Alangkah mulianya seorang wanita yang berjiwa qana`ah, cermat dalam membelanjakan harta demi mencukupi suami dan anak-anaknya. Dahulu kala, para wanita kaum salaf memberi wejangan kepada suami atau ayahnya, “Berhatilah-hatilah engkau dari memperoleh harta yang tidak halal. Kami akan sanggup menahan rasa lapar namun kami tak akan pernah sanggup merasakan siksa api neraka.” Kedua, istri shalihah adalah istri yang berbakti kepada suaminya, mendahulukan hak suami sebelum hak dirinya dan kerabat-kerabatnya. Termasuk dalam masalah taat kepada suami adalah berlaku baik pada ibu mertua. Ketiga, istri sebagai guru pertama bagi anak-anak, hendaknya mendidik mereka dengan pendidikan yang baik, memperdengarkan kata-kata yang baik, mendoakan mereka dengan doa yang baik pula. Semuanya itu merupakan implementasi bakti istri kepada suaminya. Keempat, karakter istri dengan adab baik adalah tidak mengadukan urusan rumah tangga dan mengungkit-ungkit perkara yang pernah membuat diri si istri sakit hati dalam pelbagai forum. Hal yang sering terjadi pada diri seorang wanita yaitu menceritakan keadaan buruk yang pernah menimpanya kepada orang lain. Seakan dengan menceritakan masalah yang melilit dirinya urusan akan terselesaikan. Namun yang terjadi sebaliknya, keburukan dan aib keluarga justru menjadi konsumsi orang banyak, nama baik suami dan keluarga terpuruk, dan jalan keluar tak kunjung ditemukan. Bentuk adab kelima, tidak keluar dari rumahnya tanpa memperoleh izin terlebih dahulu dari suami. Mengenai hal ini, Nabi telah mewanti-wanti dengan bersabda, “Hendaknya seorang wanita (istri) tidak keluar dari rumah suaminya kecuali dengan seizin suami. Jika ia tetap melakukannya (keluar tanpa izin), Allah dan malaikat-Nya melaknati sampai ia bertaubat atau kembali pulang ke rumah.” (HR. Abu Dawud, Baihaqi, dan Ibnu `Asakir dari Abdullah bin Umar). Demikian halnya dalam masalah ibadah non-wajib seperti puasa sunnah, hendaknya seorang istri tidak melakukannya kecuali setelah suami memberi izin. Betapa indah kehidupan pasangan suami-istri yang menjadikan rumah tangga Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam sebagai titik singgung dalam menghidupkan hubungan harmonis. Tidak ada yang sempurna dari pribadi pria sebagai suami dan wanita sebagai istri. Kelebihan dan kekurangan pasti adanya. Suami-istri yang sadar antara hak dan kewajibannya akan melahirkan generasi penerus kehidupan manusia yang saleh, pribadi bertakwa, dan menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama. Membina rumah tangga bahagia perlu keterampilan, kepandaian, dan kebijakan pengelolalnya. Masing-masing pasangan dituntut untuk pandai dan bijak mengelola rumah tangga keduanya, pandai dan bijak mengelola hubungan dengan buah hati mereka, pandai dan bijak mengatur waktu antara bekerja dan bercengkrama dengan pasangannya, pandai dan bijak mengelola keuangannya, bahkan pandai dan bijak mengelola cintanya.

Sabtu, 31 Maret 2012

5 SIFAT YANG HARUS DIMILIKI OLEH SETIAP PEMIMPIN

1. SHIDDIQ
artinya mempunyai komitmen untuk bertindak dan berkata jujur dan selalu melandaskan kata, perbuatan/amal dan keyakinan berdasarkan atas nilai-nilai yang benar berdarsarkan ajaran Islam. Tidak ada kontradiksi /pertentangan yang disengaja antara ucapan dan perbuatan. Karena itu Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk senantiasa memiliki sifat shiddiq dan menciptakan lingkungan yang shiddiq pula. QS.Al-Taubah [19]: 119 Allah menandaskan :
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”.QS.Al-Taubah [19]: 119.
Dalam dunia kerja dan usaha kejujuran ditampilkan dalam bentuk kesungguhan dan ketepatan (mujahadah dan itqan) baik ketepatan waktu, janji, pelayanan, pelaporan, mengakui kelemahan dan kekurangan (tidak ditutup-tutupi) untuk kemudian diperbaiki secara terus menerus serta menjauhkan diri dari berbuat bohong dan menipu (baik pada diri, teman sejawat, perusahaan maupun mitra kerja).
2. ISTIQOMAH
mempunyai arti konsisten dalam iman dan nilai-nilai yang baik, meskipun menghadapi berbagai godaan dan tantangan. Istiqomaha didalam kebaikan ditampilkan dalam keyteguhan dan kesabaran serta keuletan sehingga menghasilkan Sesuatu yang optimal. Istiqomah merupakan suatu hasil dari proses yang dilakukan secara terus menerus. Misalnya interaksi yang kuat dengan allah dalam bentuk shalat, dzikir, membaca al-Qur’an dsb. Proses itu menumbuhkembangkan suatu sistem yang memungkinkan kebaikan, kejujuran dan keterbukaan teraplikasikan dengan baik. Senaliknya keburukan dan ketidak jujuran akan tereduksi dan ternafikan secara nyata. Orang atau lembaga yang istiqomah dalam kabaikan akan mendapatkan ketenangan dan sekaligus mendapatkan solusi dan jalan keluar dari segala persoalan. Dalam QS.Fushilat [41] : 30-31:
Artinya “.30.  Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu". 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta”. (QS.Fushilat [41]: 30-31)
3. FATONAH
mempunyai arti mengerti, memahami dan menghayati secara mendalam segala yang menjadi tugas dan kewajibannya. Sifat ini akan menumbuhkembangkan kreatifitas dan kemampuan melakukan berbagai macam inovasi dan kreasi yang beranfaat. Kretatif dan inovatif hanya mungkin dimiliki manakala seseorang selalu berusaha untuk menambah berbagai ilmu pengetahuan, peraturan dan informasi baik yang berhubungan dengan pekerjaannya maupun perusahaannya secara umum. Sifat fatonah perpaduan antara alim dan hafidz telah mengantarkan Nabi Yusuf dan Timnya membangun kembali negeri Mesir. Dalam QS.Yusuf [12] : 55) Allah menandaskan :
Artrtinya “Berkata Yusuf: "Jadikanlah Aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya Aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan". QS.Yusuf [12] : 55) 
4. AMANAH
mempunyai arti bertanggung jawab dalam melaksanakan setiap tugas dan kewajiban. Amanah ditampilkan dalam keterbukaan, kejujuran, pelayanan yang optimal dan ihsan (berbuat yang baik dan terbaik) dalam segala hal. Sifat ini harus dimilikioleh setiap mukmin, apalagi yang mempunyai pekerjaan yang berhubungan dengan pelayanan kepada masyarakat. Dalam QS Al-Nisa [4]: 58 : 
Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat. (QS Al-Nisa [4]: 58 ) Dalam suatu kesempatan Nabi mengatakan : “Amanah akan menarik rezeki, sebaliknya khianat itu mengakibatkan kefakiran”.
5. TABLIGH  
berarti mengajak sekaligus memberikan contoh kepada pihak lain untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Tabligh yang disampaikan dengan hikmah, sabar, argumentative dan persuasive akan menumbuhkan hubungan kemanusiaan yang semakin solid dan kuat.

10 Tipe Pria Calon Pendamping Hidup

Memilih calon pendamping hidup, dalam tanda kutip yang baik memenuhi 4 kriteria yang dianjutkan oleh agama, bukan sesuatu yang mudah. Beberapa waktu lalu, ada sahabat yang minta dicarikan pendamping untuk anak gadisnya, dengan kriteria yang menurut saya sangat tidak logis. Harus S2, Sudah PNS dan sebagainya. Perfectsionis....kata itu yang muncul dari benak saya

Memang ada beberapa jenis pria yang harus dijauhi.
Namun, membuka hati bagi pria baik-baik dan berkencan kembali, layak Anda perhitungkan. Berikut enam jenis pria yang layak dipertimbangkan menjadi pasangan di tahun depan, seperti dikutip dari Yourtango.com

1. Pria yang bisa memperlakukanmu dengan baik
Bukan dengan memperlakukanmu seperti putri raja dan memanjakanmu setiap hari, tetapi ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk menunjukkan cintanya dan tidak akan pernah menyakitimu. Apabila tanpa ia sadari ia menyakiti dirimu, ia tidak ragu untuk mendatangimu, mengakui kesalahan dengan jantan dan meminta maaf dengan tulus. Ia adalah pria yang menghargai dan menghormati wanita. Tidak ada yang lebih menjijikkan dibandingkan pria yang merendahkan, sering melakukan kekerasan fisik dan verbal terhadap wanita.

2. Pria yang kata-katanya sesuai dengan tindakannya
Ketika ia berkata ya, maka ia akan melakukannya, ketika ia berkata tidak, maka ia akan tidak akan melakukannya. Termasuk dalam ciri-ciri ini adalah pria yang setia terhadap pasangannya. Saat ia berjanji bahwa kamu adalah wanita satu-satunya yang ia cintai, maka ia benar-benar tidak memiliki wanita lain di hatinya. Intinya, ia mampu mempertanggungjawabkan kata-katanya dan merealisasikannya dalam tindakan (tidak plin plan).

3. Pria yang mencintaimu luar dan dalam
Mengapa pria seperti ini tepat? Karena ia tidak mencintai kecantikan fisik wanita saja. Ia bisa mencintai segala kelebihan dan kekuranganmu, baik fisik, sikap, dan kebiasaanmu. Dan yang paling penting, ia bisa mencintai ketidaksempurnaanmu secara sempurna.

4. Pria yang punya masa depan cerah
Jika kamu benar-benar serius untuk membina hubungan sampai jenjang pernikahan, maka karakteristik ini harus benar-benar kamu pikirkan. Apakah kamu harus memilih pria yang mapan dalam pekerjaan dan keuangannya? Tidak juga. Yang paling penting adalah ia dewasa dalam berpikir dan memiliki rencana-rencana ke depan yang jelas, tidak menghabiskan waktunya hanya dengan bermain game dan menonton tv. Ia bisa menyeimbangkan antara having fun dan beristirahat dengan pekerjaan dan produktivitas.

5. Pria yang mampu membimbing dan melindungimu
Dalam sebuah hubungan, pria adalah leader. Bersamanya, kamu dapat berkembang menjadi wanita yang lebih baik. Ia juga menjadi orang pertama yang berada di depanmu untuk melindungimu dari segala macam bahaya.

6. Pria yang percaya diri
Ia mungkin tidak tampan, tapi ia selalu terlihat bersemangat, wajahnya cerah, berani menghadapi orang, dan memiliki kepribadian yang menyenangkan. Dan yang paling penting adalah ia tetap menjadi dirinya sendiri dan tidak berusaha mati-matian untuk mengubah sikapnya dan berperilaku seperti orang lain (misalnya aktor yang kamu suka) ketika ia mencoba untuk menarik perhatian dirimu.

7. Pria yang independen
Apakah pria yang meluangkan setiap jam,menit,dan detik untuk dirimu adalah pria yang tepat untukmu? Singkat saja, TIDAK. Karena itu berarti ia terlalu terikat pada dirimu dan bisa membuatnya bersikap posesif ketika ia sudah mendapatkan dirimu. Pria yang independen adalah pria yang juga memikirkan hidupnya sendiri, meluangkan waktu untuk keluarga dan teman-temannya dan mengerjakan hobinya sendiri. Sekali lagi, jangan pernah memilih pria yang terlalu lekat dan terlalu membutuhkanmu, karena ia sendiri yang akan menjadi orang yang merusak hubunganmu dengan dirinya dan orang lain di masa depan.

8. Pria yang apresiatif
Ia adalah orang yang peka dan perhatian terhadap hal-hal kecil yang kamu lakukan. Ketika kamu berusaha untuk tampil cantik, ia akan memujimu. Ketika kamu mengambilkan air minum untuk dirinya, ia akan mengucapkan terima kasih. Ketika kamu melakukan hal-hal yang di luar kebiasaanmu, ia mengamati perubahanmu.

9. Pria yang jujur dalam bertindak dan berkata-kata
Ia bisa berkata yang sebenarnya terjadi ketika ia melakukan kesalahan dan ia melakukan segala sesuatu untuk dirimu dengan tulus tanpa maksud buruk tertentu. Selain itu, ia adalah pria yang tidak mencari approval (persetujuan) darimu dengan selalu memberikan pujian, tetapi ia juga bisa mengkritik dirimu ketika kamu melakukan kesalahan. Pujian penting untuk membuatmu semakin termotivasi sedangkan kritik penting untuk membuatmu menjadi wanita yang lebih baik lagi.

10. Pria yang punya moralitas yang baik
Tingkat moralitas dirinya juga berpengaruh terhadap hubunganmu kelak. Pria yang jarang bermasalah dengan dirinya sendiri dan masyarakat cenderung akan berlaku baik dalam hubungan denganmu. Moralitas yang rendah (suka menyelesaikan masalah dengan kekerasan, akrab dengan kriminalitas, narkoba, dan free-sex) akan membawa sebuah hubungan ke dalam masalah kekerasan, pertengkaran, dan perselingkuhan.

Jumat, 30 Maret 2012

Empat Golongan Pengguna Harta


DARI sekian banyak karunia Allah SWT yang diberikan kepada kita adalah harta benda dan ilmu. Dua hal ini merupakan faktor dominan yang sangat menentukan dalam upaya mencapai kehidupan yang shalih, bahagia di dunia dan akhirat. Kendatipun demikian tergantung kepada kita apakah kita dapat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya segala yang telah diberikan Allah SWT kepada kita tersebut, sehingga dalam pelaksanaan penggunaan harta akan ditemukan berbagai golongan manusia. Rasulullah Saw dalam sebuah hadist riwayat At-Tirmidzi yang cukup panjang dari Abi Kabasyah Umar bin Sa’id An Namiry ra, bahwasanya dia pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, yang artinya:“….Bahwa sesungguhnya dunia ini untuk empat golongan ummat manusia:

Pertama, orang yang dikarunia rizki oleh Allah berupa harta benda dan ilmu pengetahuan, digunakan untuk bertaqwa kepada Allah, mempererat tali persaudaraan dan mengetahui akan hak Allah. Inilah golongan yang paling tinggi derajatnya.
Kedua, orang yang dikaruniai ilmu pengetahuan dan tidak dikaruniai harta benda. Dia mempunyai niat yang benar dan berkata:”Seandainya aku diberi harta benda, tentu saya akan beramal seperti apa yang dilakukan Fulan (yang senang beramal baik). Maka pahala kedua orang ini sama.
Ketiga, orang yang dikarunia harta benda oleh Allah tetapi tidak dikaruniai ilmu pengetahuan. Dia gunakan hartanya itu tanpa disertai (landasan) ilmu; tidak untuk sarana taqwa kepada Allah, tidak untuk mempererat tali persaudaraan, dan dia tidak tahu akan hak-hak Allah di dalamnya. Golongan ini paling rendah derajatnya.
Keempat, orang yang tidak dikarunia harta serta ilmu pengetahuan. Dia berkata,”Seandainya aku dikaruniai harta, tentu akan aku gunakan seperti yang dilakukan si Fulan (yaitu golongan ke tiga). Orang semacam ini akan mendapat balasan sesuai dengan niatnya yang tidak benar. Dan kedua orang ini (golongan ketiga dan keempat) dosanya sama” (HR. At-Tirmidzi)


Keterangan:

Golongan Pertama
Ini termasuk golongan yang beruntung, orang yang dikaruniai kekayaan dan ilmu (kaya dan ‘alim), tahu bagaimana mentasarrufkan hartanya yang antara lain ia gunakan untuk;
•    Mensukseskan tugas-tugasnya sebagai hamba Allah (pelaksanaan taqwa membutuhkan sarana dan prasarana, naik haji, wakaf dll)
•    Untuk menjalin hubungan harmonis antar sesama manusia (dapat saling membantu dengan sesama : misal kita memberikan sedekah kepada faqir miskin atau amal sosial lainnya). Allah Swt berfirman :

“ … Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan)” (QS. Al Baqarah: 272)
Tentang tafsir ayat ini, sebagaimana disebutkan dalam tafsir Depag RI, Allah SWT menjelaskan bahwa sedekah itu mendapat faedah timbal balik. Orang yang menerima sedekah itu dapat tertolong dari kesukaran, sedang orang yang memberinya akan mendapat pahala di sisi Allah, dan dihargai pula oleh orang disekitarnya, asal saja ia memberikan sedekah itu dengan cara yang baik-baik, dan ikhlas karena Allah semata. Apa saja harta benda yang baik yang dinafkahkan seseorang dengan ikhlas niscaya Allah akan membalasnya dengan pahala yang cukup dan ia tidak akan dirugikan sedikit pun karena orang-orang yang suka berinfaq dengan ikhlas tentu disayangi dan dihormati oleh masyarakat terutama oleh faqir miskin dan pahalanya tidak akan dikurangi di sisi Allah.
•    Melaksanakan hak-hak Allah (Hak Allah antara lain hak untuk disembah, hak untuk dicintai dan mencintai, hak untuk diikuti perintah-Nya dan dijauhi larangan-Nya, termasuk didalamnya dilaksanakannya perintah zakat dan berjuang di jalan Allah).

Golongan Kedua
Golongan ini, golongan orang yang dikarunia ilmu pengetahuan akan tetapi tidak dikaruniai harta benda. Dengan berbekal ilmu yang dimilikinya, golongan ini tetap sabar. Dia menyadari bahwa harta adalah titipan Allah, dan dia tidak merasa iri sedikitpun terhadap mereka yang dikarunia harta tapi tidak digunakan untuk amal shalih. Dia mempunyai niat yang benar dan berkata:” Seandainya aku diberi harta benda, aku akan beramal seperti apa yang dilakukan Fulan (yang senang beramal baik). Niat semacam ini bagi orang yang alim dan miskin memiliki bobot pahala yang sama dengan golongan pertama tadi.

Golongan Ketiga
Golongan ini, dikarunia harta benda oleh Allah (kaya) tetapi tidak dikaruniai ilmu pengetahuan, dengan kata lain kaya tapi bodoh. Dia gunakan hartanya itu tanpa disertai (landasan) ilmu; tidak untuk sarana taqwa kepada Allah, tidak untuk mempererat tali persaudaraan, dan dia tidak tahu akan hak-hak Allah di dalamnya. Golongan ini paling rendah derajatnya.


Golongan Keempat
Golongan ini, golongan orang yang tidak dikarunia harta serta ilmu pengetahuan, dengan kata lain ‘miskin lagi bodoh’. Dia berkata,”Seandainya aku dikaruniai harta, tentu akan aku gunakan seperti yang dilakukan si Fulan (yaitu golongan ke tiga). Orang semacam ini akan mendapat balasan sesuai dengan niatnya yang tidak bena dan dosanya menurut hadist di atas sama dengan golongan ke tiga tadi (golongan ketiga dan keempat) dosanya sama” (HR. At-Tirmidzi)

Demikian tadi beberapa tipologi golongan pengguna harta , sebagai bahan renungan agar kita dapat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya segala apa yang telah diberikan Allah SWT kepada kita semua.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Selasa, 20 Maret 2012

PETUAH SEORANG IBU KEPADA ANAK GADISNYA

Kasih Seorang Ibu

Suatu Hari.. Seorang anak wanita yang ingin menggenapkan Din-nya, bertanya kepada ibunya, “ ibu, ajarkan anakmu ini tuk memilih pendamping hidup ! “

Sang ibu tersenyum, dan dengan bijak menjawab, “ Anakku , jangan kau menikahi seorang laki-laki hanya karna ketampanannya, kelak akan kecewa, karna ia pasti menua. Nak, jangan pula memilihnya hanya ia di kagumi banyak wanita, karna kau belum tahu apa kekurangannya. Tidak pula karna kekayaan atau karna nasabnya , Karna kekayaan tidak pernah kekal, nasab tidak menjamin kemuliaan dirinya. “

“Nak, Pilihlah Ia karna akhlaknya yang mulia ….Pilihlah ia karna kasihnya ke sesama….. Pilihlah ia karna imannya tiada dua” Tambah sang ibu

“Bu, lalu bagaimana aku tahu dirinya akan membuatku bahagia, padahal belum tentu ia kaya, tampan, terkenal ? tanya sang anak“

“Nak ketampanan dan kecantikan ada pada hati yang merasa. Kaya ada pada hati yang Qonaah. Terkenal di hadapan manusia belum tentu mulia di hadapan-Nya.”

“Perbaikilah akhlakmu, perbaharuilah niatmu, kuatkan imanmu, perbanyak amalmu… Lalu jika hari itu tiba…

Terimalah sosok yang berani melamarmu. Setidaknya dia berniat baik kepadamu, bukan menebar pesonanya, namun karena keinginannya menjaga kesucian cinta. Kau tentu boleh memilih…..namun ingatlah Jika kau alihkan cintamu pada harta, ketenaran, ketampanan, juga nasabnya, maka kau pasti akan kecewa. Karna boleh jadi itu hanya topeng darinya. “

“ Istikharahlah……

Dan…Jika pilihanmu mantap padanya… Menikahlah nak…..karna itu adalah sebaik-baik penawar fitnah…. kau akan rasakan kebahagiaan karna memengkan Allah dalam pilihanmu…

Rajutlah Cinta bersamanya…
Kelebihannya membuatmu tersenyum bahagia…
Kekuranganya akan menjadi bumbu-bumbu cinta diantara kalian..
Karna kalian tercipta untuk saling mengisi…
Saling memperbaiki akhlak…
Semangati langkahnya, kokohkan semangat juangnya.
Arung bahtera rumah tangga dengan senyum ceria
Kelak didiklah anak-anakmu untuk menjadi pejuang yang setia pada cinta yang Mulia..
Lahirkan keturunan yang kuat tauhidnya, mulia akhlaqnya, kokoh azzamnya.

Dan…..

Kelak, ibumu ini akan bahagia menimang cucu seorang pejuang sejati.. “
Terimakasihku kepada orang yang selama ini ku anggap sebagai ibu sendiri sang motivator kehidupan…

~Salam Penuh Cinta dan kesucian

(Di ambil dari catatan Sunandar Dua)